Dalam
melakukan wawancara, terdapat suatu bidang informasi yang penting untuk kita
dapatkan dari klien. Area informasi tersebut merupakan social history yang dimiliki klien. Social history merupakan bagian dari wawancara yang cenderung
memakan banyak waktu, karena mencangkup berbagai jenis informasi. Social history termasuk informasi tentang
sejarah keluarga, hubungan dengan keluarga, sejarah pendidikan, sejarah
perkejaan, sejarah pernikahan, sejarah seksual, hubungan interpersonal,
jaringan sosial, kegiatan rekreasi yang digemari, sejarah medis, sejarah
perawatan psikiatris atau psikoterapi, sejarah legal, penyalahgunaan alkohol
atau substansi lain, kebiasan pengkonsumsian nikotin dan kafein, situasi rumah
sekarang, sumber dukungan, dan agama klien.
Mengapa
social history klien penting untuk
didapatkan? Social history memberikan
konteks di mana klien berkembang sebagai individu dan mengembangkan
strategi-strategi untuk hidup dan beradaptasi, baik strategi-strategi yang
efektif atau tidak efektif. Social
history juga memberikan konteks di mana masalah-masalah klien berkembang;
dari social history, kita bisa
mendapatkan informasi tentang seseorang atau sesuatu yang terjadi kepada klien yang
mempengaruhi perkembangan masalahnya. Penting bagi pewawancara untuk mengingat
bahwa masalah-masalah klien tidak hanya memiliki penyebab internal (dari dalam
klien diri), namun juga eksternal (dari luar klien; lingkungan). Melalui social history, pewawancara juga dapat
memahami persepsi klien terhadap berbagai hal, perasaan mereka, dan arti apa
yang mereka tempatkan pada hal-hal tersebut. Memahami social history klien yang unik akan membantu menekankan kepada
terapis bahwa ia bukanlah sedang mengobati sebuah masalah, melainkan membantu
seorang individu yang mengalami masalah. Maka, bagian dari tugas pewawancara
adalah untuk membantu klien menceritakan kisah hidup mereka.
Social
history dapat mulai
digali dengan mencari tahu tentang sejarah keluarga klien. Pewawancara dapat
memulai dengan bertanya di mana klien lahir dan besar, lalu mengikuti dengan
bertanya tentang asal usul keluarga klien. Dalam mencari tahu family history klien, pewawancara
memiliki tiga tugas; mendapatkan biografi yang singkat tentang anggota-anggota
keluarga klien, mencari tahu hubungan klien dengan keluarganya baik di masa
lalu dan sekarang, dan mencari tahu apakah klien memiliki anggota keluarga yang
memiliki gangguan mental. Untuk membantu klien dengan masalahnya, pewawancara
perlu mengetahui apakah masalah yang dialami klien juga dialami oleh
anggota-anggota keluarganya. Dari aspek keluarga, masalah klien dapat
dipengaruhi oleh pola komunikasi dalam keluarga klien, sifat-sifat dari anggota
keluarga klien, dan konflik-konflik dalam keluarga klien baik di masa lalu atau
yang dialami sekarang. Salah satu cara yang praktis untuk memahami informasi
keluarga klien adalah dengan menggambar diagram family genogram, yang dikembangkan oleh Murray Bowen.

(beberapa contoh family genogram)
Setelah
pengalaman dengan keluarga, pengalaman di sekolah merupakan pengaruh terbesar
pada pembentukan karakter individu. Hal ini bisa kita dapatkan melalui educational history klien, yang
mencangkup prestasi akademik klien dan pengalaman-pengalamannya dalam dunia
pendidikan. Memori dan persepsi klien mengenai masa-masa sekolahnya dapat
memberi tahu pewawancara tentang kesuksesan klien dalam dunia pendidikan dan
proses sosialisasi. Mengenai prestasi sekolah, perlu diingat bahwa prestasi
sekolah tidak selalu mencerminkan tingkat intelektual klien. Kadang, kita akan
bertemu orang yang memiliki prestasi sekolah baik, namun tidak dapat
beradaptasi di luar dunia pendidikan, sedangkan ada juga orang yang tidak
memiliki prestasi sekolah yang baik, namun sangat sukses di dunia kerja dan di
luar dunia pendidikan. Kemampuan klien untuk mengembangkan hubungan-hubungan
interpersonal di sekolah, seperti pertemanan, cenderung mencerminkan
kemampuannya untuk mengembangkan hubungan di masa depan. Kurangnya memiliki
hubungan interpersonal selama masa sekolah dapat menjadi indikasi bahwa klien
belum memahiri keterampilan dasar untuk bersosialisasi.
Untuk
klien yang berusia dewasa, pewawancara dapat mencari tahu occupational training atau job
history mereka. Ingatlah bahwa beberapa klien yang datang mungkin tidak
memiliki pekerjaan. Maka, jangan memulai topik pembicaraan dengan bertanya “apa
pekerjaan Anda?”, karena hal ini dapat membuat klien yang tidak bekerja merasa
tidak nyaman. Melainkan, tanyakanlah “apa kesibukan Anda setiap hari?”; klien
yang memiliki pekerjaan akan bisa menceritakan tentang pekerjaan mereka, dan
klien yang tidak bekerja dapat menceritakan aktivitas sehari-hari mereka. Job history dapat memberi gambaran
tentang kemampuan klien untuk bekerja, dan seberapa sukses mereka dalam dunia pekerjaan.
Terdapat beberapa klien yang sudah lama bekerja untuk perusahaan yang sama,
atau bahkan juga dalam posisi yang sama, dan terdapat beberapa klien yang
sering berganti-ganti pekerjaan; mengetahui alasan dibalik keputusan mereka mungkin
dapat membantu pewawancara untuk menyelesaikan masalah klien. Cari tahu juga
apakah pendidikan atau pelatihan yang klien lakukan berhubungan dengan
pekerjaan mereka sekarang. Pertimbangkan apakah pekerjaan klien pada masa ini
didorong oleh keinginan klien sendiri, atau untuk memuaskan keinginan orang
lain, seperti orang tuanya.
Social history juga mencangkup sejarah hubungan-hubungan
klien, termasuk marital history dan interpersonal relationships. Dalam marital history, tanyakan klien tentang hubungan
romantisnya, status pernikahannya, berapa kali ia pernah menikah, dan
hubungan-hubungan romantis lain yang signifikan untuk klien. Dalam interpersonal relationship, cari tahu
tentang hubungan-hubungan interpersonal yang klien miliki, seperti dengan teman-teman
atau rekan kerja.
Sexual history juga merupakan bagian dari social history klien. Hal-hal yang
mencakup sexual history merupakan sexual functioning, sexual preference, orientasi seksual, sexual practice, sexual abuse dan sexual problems yang mungkin pernah dialami klien, dan sexually transmitted disease yang
mungkin pernah atau sedang klien miliki. Sexual
history merupakan topik yang sensitif; karenanya berhati-hatilah dalam
memilih kata-kata untuk bertanya. Salah satu cara untuk memulai topik sexual history adalah dengan menanyakan
klien apakah dalam waktu dekat mereka telah mengalami perubahan dalam kepuasan
atau ketertarikan seksual. Bila klien menjawab iya, lanjutkan dengan bertanya
apa menurut mereka yang menyebabkan perubahan tersebut.
Bagian
lain dari social history adalah recreational preferences, yaitu aktivitas-aktivitas
yang klien gemari, atau hobi-hobi klien. Beberapa orang dapat merasa sulit
untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Beberapa dari mereka memandang hal-hal
yang menyenangkan atau kegiatan-kegiatan rekreasi sebagai hal-hal yang konyol
atau tidak bermanfaat. Hal ini cenderung terjadi pada orang-orang yang
ketergantungan pada zat kimiawi (chemically-dependent)
atau pada orang dengan kepribadian obsesif-kompulsif. Kurangnya
aktivitas-aktivitas yang menyenangkan bagi mereka dapat menyebabkan
penyalahgunaan alkohol atau zat-zat lainnya.
Kebiasaan
klien dalam mengkonsumsi alkohol, nikotin, kafein, dan zat-zat lain juga
merupakan bagian dari social history-nya.
Penggunaan atau penyalahgunaan alkohol dan zat lain (alcohol and substance use or abuse) merupakan topik yang sensitif. Salah
satu cara untuk memulai topik ini adalah dengan membuat pernyataan “kadang saya
suka minum minuman beralkohol. Bagaimana dengan Anda?” Klien kadang tidak sadar
bahwa nikotin dan kafein termasuk dalam zat-zat adiktif. Kebiasaan penggunaan
nikotin atau kafein dapat memberi indikasi tentang gaya hidup atau masalah-masalah
yang sedang klien alami.
Riwayat
kesehatan atau segala macam pengobatan yang pernah klien alami juga penting
untuk diketahui. Medical history klien
perlu digali oleh pewawancara, dan termasuk riwayat rawat inap, riwayat rawat
jalan, riwayat operasi, check-up medis
yang terakhir, ahli kesehatan atau dokter yang sering dikunjungi klien, masalah
serius dengan kesehatan gigi dan mulut yang pernah atau sedang dialami klien,
riwayat medis keluarga klien, dan nama dan dosis dari obat-obat yang sedang
digunakan klien. Untuk informasi terakhir ini, mintalah klien untuk membawa
obat-obat mereka, daripada mengandalkan ingatan klien tentang semua nama dan
dosis yang bisa terlupakan oleh klien. Selain medical history klien, psychiatric
or psychotherapy history klien juga harus digali. Cari tahu apakah klien
pernah diberi diagnosa gangguan mental, namun jangan berasumsi bahwa diagnosis
tersebut pasti tepat. Tanyakan juga pandangan dan pendapat klien tentang
pengalaman yang ia miliki dengan pengobatan psikiatri; hal ini dapat membantu
pewawancara memahami apa yang membantu dan tidak membantu klien selama
pengobatannya.
Legal history juga salah satu bagian dari social history klien. Dalam memulai
topik ini, jangan menanyakan “apa saja masalah dengan hukum yang pernah Anda
alami?” “Masalah dengan hukum” memiliki arti yang sangat luas, dari ditilang
polisi saat mengendarai sampai dipenjara untuk tindakan kriminal. Sebaiknya,
topik ini dimulai dengan menanyakan “pengalaman apa saja yang Anda miliki
dengan pihak hukum?” Pertanyaan ini lebih mungkin memancing jawaban yang akurat
dari klien.
Dengan
banyaknya informasi yang termasuk dalam social
history klien, kita dapat melihat bahwa social
history merupakan bagian yang sangat penting untuk didapatkan pewawancara agar
ia dapat memahami klien sebaik mungkin. Bagaimana caranya agar pewawancara bisa
mendapatkan social history klien, dan
menjadi pewawancara social history yang
baik? Pewawancara harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh klien; apa yang
diceritakan oleh klien dapat memberi petunjuk tentang hal-hal yang penting
untuk ditanyakan lebih lanjut. Pewawancara sebaiknya memberi klien kesempatan
untuk bercerita sebanyak mungkin, dan bila pewawancara harus berkata sesuatu,
katakan atau tanyakanlah hal-hal yang penting. Doronglah klien untuk terus
bercerita dengan memberikan probing yang
baik, namun ingat untuk tidak ‘menginterogasi’ klien. Terapkanlah sikap ingin
tahu; hal ini akan membuat pewawancara lebih alami dan spontan dalam
bertanya-tanya dan melakukan wawancara. Ingatlah bawa pewawancara tidak akan
mengingat semua hal yang diceritakan oleh, namun hanya bagian-bagian yang
penting atau menarik. Pewawancara harus sadar akan adanya perbedaan budaya yang
mungkin terjadi antara klien dan pewawancara. Dengan mengingat dan menerapkan
hal-hal tersebut, dan dengan banyak latihan, pewawancara akan menjadi
pewawancara social history yang
handal.
No comments:
Post a Comment