Pada perkuliahan Teknik Wawancara
minggu kelima, kami mempelajari beberapa keterampilan dasar untuk melakukan
wawancara dengan efektif. Secara garis besar, terdapat enam macam keterampilan
dasar wawancara:
1.
Kemampuan membina rapport
Rapport
merupakan suasana dan
hubungan yang nyaman dan hangat antara interviewee
dan interviewer. Bila rapport yang baik telah dibangun, klien
akan merasa nyaman dan terbuka untuk berbicara tentang topik apapun.
Kunci dari pembangunan dan kualitas rapport adalah perilaku interviewer. Untuk membangun rapport yang baik, interviewer harus mengekspresikan rasa kepedulian dan ketertarikan
tentang apa yang ingin disampaikan interviewee.
Hal-hal kecil yang dapat dilakukan interviewer
untuk membuat interviewee merasa
nyaman adalah memberi salam dengan hangat, berjabat tangan, berbincang-bincang,
dan mempersiahkan interviewee duduk. Interviewer
harus menghindari bersikap judgemental terhadap
interviewee, dan mengendalikan reaksi
mereka terhadap cerita-cerita interviewee.
Interviewer harus mencoba mengerti
situasi dan perasaan klien, tetapi juga jangan sampai menjadi sok tahu; bila interviewer belum pernah berada dalam posisi
klien, cukup berkata “saya tidak pernah berada dalam posisi Anda, maka saya
hanya bisa membayangkan apa yang Anda rasakan”.
Interviewer
juga harus berfokus pada klien, dan mencoba mengurangi hal-hal yang dapat
menginterupsi perkataan klien (seperti telefon, dan gangguan dari orang luar). Interviewer juga layaknya memperhatikan
perbedaan budaya yang mungkin terdapat antara interviewer dan interviewee. Contohnya, bila interviewer yang datang dari budaya di mana mempertahankan kontak
mata merupakan hal yang sopan bertemu dengan seorang interviewee yang menghindari kontak mata, interviewer harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa interviewee datang dari budaya di mana
mempertahankan kontak mata merupakan hal yang tidak sopan. Selain itu, interviewer juga harus memperhatikan tingkat
pendidikan dan kemampuan bahasa interviewee;
gunakanlah bahasa dan kata-kata yang dapat dimengerti oleh interviewee, dan hindari penggunaan istilah-istilah psikologi yang
tidak diketahui oleh orang awam (jargons).
Perhatikan juga lingkungan di mana
wawancara dilakukan, dan buatlah senyaman mungkin untuk interviewee. Hal-hal kecil seperti kesetaraan tinggi kursi-kursi
atau posisi kursi di mana interviewee dan
interviewer duduk dapat menambah atau
mengurangi kenyamanan interviewee,
dan mempengaruhi rapport.
Waktu yang dibutuhkan untuk membangun rapport yang baik bervariasi. Umumnya,
lebih cepat interviewee merasa nyaman
dengan interviewer, lebih cepat rapport yang baik akan dicapai. Maka,
berusahalah sebisa mungkin untuk membaut interviewee
merasa nyaman, agar wawancara dapat berjalan dengan efektif dan berbagai
informasi dapat digali.
2.
Empati
Empati merupakan kemampuan untuk mengerti
emosi, sudut pandang, dan situasi orang lain, dan kemampuan untuk menempatkan
diri pada posisi orang tersebut. Respons empati yang efektif akan membuat interviewee tahu bahwa interviewer menerima, memahami, dan mengakui
keadaan atau ‘dunia’ mereka, dan bahwa interviewer
tidak melakukan judgement terhadap
interviewee.
Keefektifan dari respons empatis yang
diberikan interviewer tergantung pada
kualitas rapport yang dimiliki dengan
interviewee. Respons empati yang
efektif akan terjadi bila interviewer dapat
mempersepsikan dengan akurat afeksi interviewee,
dapat memahami apa yang telah terjadi pada interviewee,
dan dapat memahami peran apa yang dimiliki interviewee
dalam pengalaman mereka. Hal yang penting dilakukan untuk mencapai respons
empatik yang efektif adalah terus berfokus pada klien.
3.
Attending behavior
Attending
behavior adalah perilaku yang memperhatikan interviewee, baik percakapan atau perilaku mereka. Kunci dari attending behavior yang baik adalah untuk membiarkan interviewee berbicara, dan berfokus pada
perkataan mereka. Attending behavior akan
mudah dilakukan bila interviewer tidak
berfokus pada diri mereka, tetapi berfokus sepenuhnya pada interviewee, dan memperhatikan perkataan interviewee dan memberi komentar yang berhubungan dengan cerita interviewee. Interviewer sebaiknya mengurangi kuantitas perkataan mereka, dan
memberi interviewee kesempatan untuk
bercerita. Selama berdiam, interviewer dapat
menunjukkan rasa empati melalui perilaku-perilaku nonverbal, seperti melalui
kontak mata, atau anggukan kepala.
Terdapat empat dimensi dari attending behavior. Pertama adalah
visual, dalam bentuk kontak mata dengan interviewee.
Interviewer dapat mempertahankan
kontak mata dengan interviewee untuk
menunjukkan bahwa interviewer memperhatikan
cerita interviewee. Kedua adalah vocal qualities; melalui nada dan
kecepatan berbicaranya, interviewer dapat
mengekspresikan kepedulian dan ketertarikannya terhadap perkataan interviewee. Ketiga adalah verbal tracking, di mana interviewer dapat mengikuti topik cerita
interviewee atau mengubah topik
perbincangan mereka. Interviewer harus
menjaga agar topik pembicaraan tidak beralih dari topik utama wawancara; interviewer harus memilih perkataan interviewee yang perlu dieksplorasi
lebih lanjut atau dihiraukan, agar wawancara tetap pada fokus utamanya. Keempat
adalah body language; hal-hal seperti
postur tubuh dan gerakan kepala atau tangan dapat mengindikasikan bahwa interviewer memperhatikan interviewee.
4.
Teknik bertanya
Terdapat dua jenis pertanyaan yang dapat
digunakan interviewer. Jenis pertama
adalah open question, yang tidak
bersifat mengarahkan, dan memberi interviewee
kebebasan untuk berekspresi dan bercerita tentang topik yang mereka
inginkan. Open question menghasilkan
jawaban yang panjang dan karenanya informasi yang lebih banyak akan didapatkan.
Open question dapat digunakan sebagai
pembuka wawancara (“apa yang bisa bantu?”, “masalah apa yang Anda alami?”),
untuk meminta interviewee mengelaborasi
pernyataan mereka (“ bisakah Anda bercerita lebih lanjut?” “apa yang Anda
lakukan selanjutnya?”), atau untuk meminta interviewee
memperjelas perkataan mereka (“apa yang Anda maksud dengan…?”).
Jenis pertanyaan kedua adalah closed question, yang bersifat
mengarahkan dan merujuk pada jawaban tertentu. Jawaban dari closed question umumnya hanya berupa “ya”
atau “tidak”. Kadang closed question dapat
terdengar seperti leading question (pertanyaan
yang perkataannya mendorong respons atau jawaban tertentu), dan hal ini dapat
membuar interviewee curiga bahwa interviewer memiliki maksud atau agenda
tersembunyi. Closed question memiliki
resiko dapat mempengaruhi interviewee untuk
merespon dalam cara tertentu, dan membuat pemikirannya terdistorsi oleh
pemikiran interviewer. Contoh dari closed question adalah “apakah Anda
sedih?”, “apakah Anda menyukainya?”, dan “apakah Anda merasa terganggu oleh hal
tersebut?”
Beberapa hal juga harus diperhatikan dalam
penggunaan pertanyaan. Hal pertama merupakan menghindari bersikap intrusif;
saat interviewee mengalami kesulitan
dalam bercerita, jangan memaksanya untuk berbicara. Hal ini dapat membuat interviewee merasa terganggu dan tidak
percaya kepada interviewer. Hal kedua
merupakan menghindari melakukan ‘interogasi’; hindari menanyakan sederet hal-hal
pribadi tentang klien melalui daftar pertanyaan yang panjang. Hal ini dapat
membuat interviewee merasa
seakan-akan ia sedang diinterogasi, dan membuatnya merasa tidak nyaman. Hal
ketiga adalah menghindari mengontrol eksplorasi interviewee. Interviewer layaknya
menghindari melontarkan pertanyaan dengan terus menerus; hal ini tidak akan
memberi interviewee kesempatan untuk memperdalam
cerita mereka, dan akan membuat interviewee
mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya. Hal
keeempat adalah menghindari menanyakan “mengapa”. Saat menjawab pertanyaan “mengapa”,
interviewee akan berusaha untuk
memberi rasionalisasi atas jawaban mereka, dan membuat mereka merasa
bertanggung jawab atas sesuatu. Daripada menggunakan “mengapa”, gunakanlah “apa”,
“kapan”, atau “bagaimana”. Hal kelima adalah menghindari perilaku satisfying counsellor’s needs, yaitu
perilaku di mana interviewer menanyakan
hal-hal hanya karena mereka penasaran, dan bukan karena pertanyaan-pertanyaan
tersebut dapat membantu interviewee. Hal
ini akan membuat interviewee merasa
terganggu. Melainkan, interviewer sebaiknya
merefleksikan apa yang telah dibicarakan oleh interviewee, dan mendeteksi inti masalah interviewee tanpa harus bertanya terlalu banyak.
5.
Kemampuan observasi
Dalam melakukan observasi, terdapat tiga
hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah perilaku nonverbal. Perilaku
nonverbal termasuk ekspresi wajah; kerutan alis, alis yang dinaikkan, mata yang
terbuka lebar, bibir yang dirapatkan, mulut yang terbuka, dan senyuman dapat
merefleksikan apa yang dirasakan atau dipikirkan interviewee. Bahasa tubuh, termasuk postur tubuh, posisi duduk, gerakan
kepala, arah tatapan mata, gerakan tangan, dan tarikan nafas, juga termasuk
dalam perilaku nonverbal yang harus diobservasi. Hal kedua yang harus
diobservasi adalah perilaku verbal, yaitu perkataan interviewee. Perhatikan kata-kata yang digunakan, diulang, dan diberi
penekanan oleh interviewee. Hal
terakhir yang harus diobservasi oleh interviewer
adalah adanya ketidakcocokan atau konflik antara perilaku nonverbal dan
perilaku verbal interviewee. Adaknya
diskrepansi antara perilaku verbal dan nonverbal interviewee dapat mengindikasikan bahwa interviewee tidak merasa nyaman mendiskusikan sesuatu, atau bahwa interviewee tidak berkata jujur.
6.
Active listening
Active
listening merupakan perilaku-perilaku
yang menunjukkan bahwa interviewer benar-benar
mendengarkan dan memperhatikan perkataan klien. Active listening terdiri dari encouraging,
refleksi, dan menyimpulkan (summarizing).
Encouragers
merupakan tindakan-tindakan yang digunakan untuk memancing interviewee untuk terus bercerita. Encouragers dapat berupa nonverbal,
seperti anggukan kepala, ekspresi wajah, kontak mata, dan keheningan.
Memberikan keheningan 10—15 detik setelah interviewee
berbicara dapat menjadi tanda bahwa interviewer
ingin interviewee untuk terus
bercerita, tetapi perhatikan agar keheningan tidak berlangsung terlalu lama,
karena ini dapat membuat interviewee merasa
tidak nyaman. Encouragers juga dapat
berupa perilaku verbal, seperti mengatakan “ya”, “oke”, atau “lalu”, mengulangi
kata terkahir yang diucapkan interviewee
dengan nada yang berbeda, atau menguraikan perkataan interviewee. Encouragers juga
termasuk probing, yaitu tindakan
mengeksplorasi perkataan interviewee
untuk mencari tahu lebih banyak tentang cerita interviewee, dan membuat interviewee
menjelaskan perkataan mereka.
Terdapat dua macam refleksi yang dapat
dilakuan. Pertama adalah reflection of
content, yang juga disebut paraphrasing.
Dalam melakukan reflection of content,
interviewer akan mengutarakan kembali
inti dasar dari perkataan interviewee
dalam bentuk yang lebih singkat, dan ditujukan untuk melakukan klarifikasi dengan
interviewee bahwa hal tersebut
merupakan apa yang ia maksud. Dengan melakukan paraphrasing, interviewer menunjukkan
kepada interviewee bahwa ia
memperhatikan interviewee, dan juga
mengindikasikan bahwa ia ingin diskusi dengan interviewee untuk terus berlangsung. Pada dasarnya, tujuan dari reflection of content adalah untuk
membantu interviewee melakukan eksplorasi,
dan untuk mengklarifikasi perkataan interviewee.
Reflection of content berbeda dari parroting; dalam parroting, interviewer hanya
mengulang perkataan interviewee secara
persis, sedangkan dalam paraphrasing,
interviewer menggunakan kata-katanya
sendiri. Parotting berguna untuk mengutarakan
garis besar cerita interviewee, atau
ketika mendorong interviewee untuk
melanjutkan perkataan yang belum selesai.
Jenis refleksi kedua adalah reflection of feelings, di mana interviewer mengidentifikasi emosi interviewee dan mengklarifikasikannya
dengan interviewee. Hal ini dilakukan
dengan memberi label kepada emosi yang dirasakan interviewee, dengan menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan
perasaan interviewee. Setelah
menemukan kata yang tepat untuk perasaan interviewee,
interviewer dapat memberi tahu interviewee dan mengklarifikasi bahwa
label tersebut tepat dengan perasaan interviewee.
Reflection of feelings dapat
dilakukan dengan paraphrasing dan summarizing.
Interviewer
dapat membantu interviewee untuk
membedakan antara perasaan dan pikiran mereka. Kadang interviewee dapat berkata “saya merasa…” saat menceritakan
pemikirannya. Untuk membedakan antara pikiran dan perasaan, perhatikanlah kuantitas
kata yang digunakan interviewee saat
memberi penjelasan. Perasaan cenderung dapat dijelaskan dengan hanya satu kata,
seperti “saya merasa sedih”. Pikiran cenderung dijelaskan melalui serangkaian
kata, seperti “saya merasa bahwa ia tidak suka dengan saya dan tidak ingin
berinteraksi lagi dengan saya”.
Summarizing
merupakan tindakan yang mirip dengan paraphrasing.
Namun dalam summarizing, interviewer
merangkup apa yang dikatakan interviewee
dalam periode waktu yang lebih lama. Summarizing
dapat dilakukan untuk memulai wawancara, mengakhiri wawancara, memulai
topik pembicaraan yang baru, atau untuk mengklarifikasi masalah yang kompleks.
Terdapat empat dimensi dari paraphrasing dan summarizing yang akurat dan tepat. Pertama, key words atau kata-kata kunci yang digunakan dapat diambil dari
kata-kata sama yang digunakan oleh interviewee
saat bercerita. Kedua, sentence stem dapat
digunakan, dan kadang nama interviewee juga
digunakan untuk membuat sesi diskusi lebih pribadi. Ketiga, inti dari apa yang
diceritakan interviewee disampaikan
ulang dalam bentuk yang lebih singkat dan jelas. Keempat, klarifikasi dengan interviewee, baik secara eksplisit atau
implisit, bahwa paraphrasing atau summarizing
yang telah dilakukan interviewer akurat
dan benar.
No comments:
Post a Comment